Kegiatan


CATATAN PALIDANGAN NOORHALIS : Mewaspadai Ancaman Radikalisma Di Daerah Perbatasan

Riset BNPT sejak tahun 2012, menyatakan bahwa motivasi radikalisme – terorisme itu adalah karena sentimen agama. Orang respek apabila membawa nama agama, baik di kalangan pelajar ataupun mahasiswa. Perlu mengembangan pola-pola agama yang humanis, kata DR Syaiqi Mubarak mengawali dialog di Palidangan Noorhalis.

Prof. DR Ridhahani Fizie, menyampaikan tentang tugas pokok FKPT, yaitu melakukan pencegahan. 5 (lima) bidang yang ada di FKPT melakukan pencegahan pada berbagai segmen yang berbeda. Terutama bidang agama, karena secara normatif agama bisa disalah artikan atau disimpangkan untuk tujuan gerakan radikal. Bila sesuatu diberi muatan dalil agama, orang akan bersemangat. 

Drs. Fathurrahman, radikalisme itu bermetamorposis melalui media sosial. Fakta riset menunjukkan bahwa orang belajar melalui media sosial. Pelajar juga terpapar melalui media sosial. Rendahnya literasi media sosial, menyebabkan radikalisme mudah disebarkan melalui media sosial.  Sekarang BNPT dan FKPT telah membentuk Duta Damai, yang bertugas mengcounter isu radikalisme dengan isu-isu damai. Tutor sebaya lebih strategis. Kita juga mendorong media mainstream untuk ikut mengantisipasi, sehingga media memahami isu-isu yang mengarah pada radikalisme.

Para pendengar Palidangan Noorhalis juga memberikan tanggapan, antara lain: Amat Uya di Kotabaru, menyatakan bahwa radikalisme ini sesuatu yang tidak asing lagi, karena sering diberitakan di televisi. Kuncinya, kita semua harus waspada. Terliti pada orang yang menyampaikan suatu ajaran. Cari ajaran yang baik, yang tidak mendorong pada permusuhan pada sesama. Tetapi radikalime juga akibat  dari ketimpangan sosial ekonomi, perbaiki keadaan, maka bisa membendung berkembangnya paham radikal. 

Sadam di Banjarmasin, mengatakan bahwa selain mewaspadai, seharusnya pemerintah juga memahami kondisi mereka. Dicari tahu kenapa mereka sampai berbuat demikian. Apakah karena persoalan ekonomi atau pengaruh pergaulan. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Maka penting ada pembekalan bagi kita semua sebagai warga agar memahami apa itu radikalisme. 

Hj Ratih di Banjarbaru, tentang peristiwa penangkapan kelompok teroris di Palangkaraya, kenapa mereka ditangkap? Apakah mereka sedang melakukan aksi yang mengancam di Palangkaraya atau bagaimana?

DR Suaqi memberikan tanggapan, bahwa asbabun nujul orang menjadi radikal itu bermacam-maccam, ada karena faktor ekonomi, ada juga karena politik, tapi semuanya unjung-ujungnya dalah ajaran agama. Sekarang ini BNPT sedang memberdayakan para napiter dengan penguatan ekonomi, namun dari sisi agama, lebih susah untuk mengubahnya, karena mereka sudah memiliki paham yang keras. Beruntung di Kalsel kita memiliki dua hal yang dapat mengontrol berkembangnya paham ini, yaitu kuatnya patron ulama dan masih hidupnya budaya lokal dalam bentuk bubuhan atau kekerabatan.

Ulama di Kalsel ini beraliran moderat, tidak ekstrim kiri ataupun kanan, dan masyarakat masih sangat hormat dengan ulama, sejauh ulamanya masih moderat maka masyarakat akan tetap terjaga. Sementara itu bubuhan, menjadi media untuk saling mengingatkan bila ada di lingkungan bubuhan yang menyalahi atau dianggap menyimpang. Namun sekarang sensitifitas masyarakat kita pada lingkungannya semakinn berkurang, lapor 1 x 24 jam sudah jarang berlaku. Padahal sangat penting dalam soal detek dini di lingkungan tinggal  masyarakat.

Sementara itu Prof DR Ridhahani Fizie menyatakan memang ada faktor kesenjangan yang dapat memicu orang menjadi radikal. Terutama di daerah perbatasan, biasanya kesenjagan tersebut semakin nyata. Mereka membandingkan dengan daerah yang ada di sebelahnya. Kalau di sebelah sana nampak makmur, maka idiologi radikal guna menentang pemerintah akan cepat dimakan. Bila persoalannya karena faktor ekonomi, maka menjadi tugas pemerintah menyelesaikannya. Tugas FKPT kalau itu menyangkut idiologi agama yang disalah artikan atau disalah maknai, maka melalui koordinasi para  pihak pencegahan dilakukan. 

Drs Fathurrahman membenarkan bahwa Kalimantan menjadi tempat berlindung karena dianggap aman. Apalagi yang datang membawa simbol agama, akan mudah diterima dan tidak ada resistensi apalagi dicurigai.  Karena itu FKPT Kalsel ingin melakukan koordinasi dengan FKPT Kalteng, sehingga terbangun sinergi di antara dua daerah untuk sama-sama waspada terhadap daerah perbatasan.  

Penelpon lainnya, Surian Hair di Banjarmasin, menanyakan mengenai celah masuk kelompok radikal ini. Baik masuknya orang ataupun masuknya paham. Tadi disebutkan disebarkan melalui media sosial, artinya ada pintu yang sangat lebar untuk menyebarkan paham ini melalui media sosial. Sementara pintu kedatangan orang, dapat di detekni dari lingkungan masyarakat.  sementar aitu, Hariyadi di Tabalong menyarankan agar dalam rangka pencegahan, RT dan RW difungsikan secara maksimal. 

R Syauqi mengatakan bahwa kita harus mengapresiasi keberhasilan Polda yang mampu menyisir kelompok radikal yang katanya memiliki kemampuan dalam merakit bom berdaya ledak tinggi.  Prof Ridhahani Fizie mengingatkan untuk terus memperkuat kearifan lokal, karena terbukti mampu menangkal ancaman radikal. Misalnya dengan memperkuat konsep dan fungsi bubuhan, siskamling dan berbagai nasehat yang ada pada budaya lokal, kalau semua itu jalan maka daya tangkal masyarakat akan kuat.  Drs Fathurrahman  mengatakan agar edukasi harus terus dilakukan. Terutama menyangkut literasi media sosial. Sementara itu pada tingkat aparat, hendaknya dibangun koordinasi. Kalau ada masalah, segera tangani, jangan didiamkan. Apalagi kalau masyarat sudah lapor, jangan diabaikan, sehingga terbangun kerjasama antara masyarakat dengan aparat. (NM)